Memasak VS Buku (Ilmu)

Masak dan buku adalah dua hal yang sering menjadi bahan perbincangan antara saya dengan para sahabat. Ya karena para sahabat saya sangat menyukai dan secara tidak langsung dituntut untuk memasak sedangkan kondisi sebaliknya pada diri saya. Sebaliknya, saya memiliki hobi membeli dan membaca buku (beberapa belum selesai dibaca) dan sangat jarang dan tidak ahli dalam hal memasak.

Pernah dan sering kali kami membahas tentang hal ini. Salah satunya ketika kami sedang memasak bersama. Para sahabat saya mengatakan, kalau pandai memasak itu penting terlebih bagi seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu. Yap, tentu saya sangat setuju, tapi sepertinya ada sedikit hal yang harus diluruskan yang tidak bisa saya utarakan saat itu.

Dilain waktu, pernah saya mengfoto sebuah buku baru saya di grup percakapan kami, lalu sahabat saya mengatakan "buku terus, kapan2 masakanannya juga". Saya hanya mampu membalasnya dengan "buku masakan ya, hehe"

Tetapi dilain kesempatan saya baru menemukan apa yang seperti perlu sedikit diluruskan, karena sering kali hal ini juga dibahas pada beberapa ceramah. Kurang lebih isinya seperti ini...

Dalam rumah tangga yang bertanggung jawab adalah seorang suami, sehingga sudah menjadi tugas suami untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya (istri dan anak2nya). baik dalam hal nafkah, tempat tinggal, makanan, dan keperluan lain. Termasuk memenuhi makanan, merapihkan rumah dan tugas lain dan bukan tugas seorang istri. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, yang bahkan beliau menjahit bajunya sendiri. Namun, sebagai istri yang baik tentu tidak akan membebankan semuanya kepada suami. Setelah seharian mencari nafkah untuk keluarga, wanita yang baik dan shalihah tidak akan membiarkan suaminya harus dibebakan juga dengan hal merapuhkan rumah. Dan rumah tangga yang baik tentunya dijalankan dengan asas kerjasama dan komunikasi yang baik.

Begitu juga dalam hal makanan dan memasak. Memang akan lebih baik bagi seorang istri mampu memasak. Karena hal ini adalah salah satu cara membuat keluarga (suami dan anak2) betah di rumah (kemakan iklan bumbu dapur :D) . Lantas apa hanya mampu memasa dan menghidangkan makanan lezat sudah mampu menghadirkan "baiti jannati" (rumahku surgaku) ?

Jika kita sama-sama menccari dari berbagai ceramah atau artikel tentang rumah tangga, niscaa tidak akan ada satu ceramah atau artikel pun yang membahas mengenai masakan yang akan mengharmoniskan. Jikapun ada hal ini hanya sebagai tambahan atau pemanis dalam rumah tangga. Akan tetapi hal yang paling penting adalah dengan ilmu. Ya ilmu yang bisa kita dapatkan dari buku atau mengikuti kajian/seminar mengenai rumah tangga atau parenting. Dengan ilmu yang kita dapat dari berbagai sumber tersebut kita menjadi tau bagaimana memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik. Dengan ilmu kita menjadi tahu hal apa saja yang harus dilakukan agar menjadi istri shalihah. Dengan ilmu kita menjadi tahu apa saja yang harus dilakukan agar menjadi ibu yang shalihah dan melahirkan anak-anak yang shalih/ah dan bermafaat terlebih untuk agamanya.

Terakhir, dengan tulisan ini saya tidak membatasi yang manakah yang harus diutamakan atau dipilih. Tetapi saya menekankan kepada dua hal tersebut harus seiring dan sama-sama dilakukan tanpa mengedepankan yang lain. Seorang wanita yang baik adalah pembelajar yang haus dengan berbagai ilmu agar menjadikan keluarganya lebih baik lagi setiap harinya terutama dihadapan ALLAH SWT. Dan didukung pula dengan kemampuan memasak dan memahami kebutuhan gizi bagi keluarganya. Karena tanpa asupan gizi yang baik tentu tidak mampu mendukung berbgai aktivitas yang baik. Jadi mari terus belajar dan memperbaiki diri dalam kedua hal tersebut. Memasak dan Buku (Ilmu).

NB :
Mohon masukan dan kritik yang baik jika terdapat kekeliruan. Karena ini murni dari pemikiran pribadi penulis yang merangkum dari berbagai sumber.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbahagialah

Perjuangan

Bersyukur